Cara Menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett
Pernahkah kamu merasa frustrasi melihat portofolio saham yang warnanya lebih sering merah daripada hijau? Atau mungkin, kamu sering terjebak membeli saham gorengan karena ikut-ikutan "kata orang" di grup Telegram, lalu harganya terjun bebas saat kamu baru saja masuk?
Tenang, kamu tidak sendirian. Itu adalah fase yang hampir dilewati semua investor pemula. Masalah utamanya bukan karena kamu kurang pintar matematika, tapi karena kamu belum punya "saringan" yang kuat.
Di dunia investasi saham, ada satu sosok yang saringannya sudah teruji puluhan tahun mencetak kekayaan triliunan rupiah. Ya, siapa lagi kalau bukan Warren Buffett. Rahasianya bukan pada grafik yang rumit, melainkan pada pemahaman mendalam tentang kualitas bisnis. Dan inti dari kualitas bisnis itu ada pada dua rasio sakti: Cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett.
Artikel ini bukan sekadar teori buku teks kuliah yang membosankan. Kita akan bedah tuntas bagaimana cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett agar kamu bisa tidur nyenyak saat pasar sedang badai, karena tahu saham yang kamu pegang adalah "mesin pencetak uang".
Daftar Isi (Klik untuk Loncat)
- Apa Itu ROE & ROA? Penjelasan "Warung Bakso"
- Kenapa Warren Buffett Tergila-gila pada ROE & ROA?
- Perbedaan ROE vs ROA: Mana yang Lebih Penting?
- Cara Menghitung ROE ala Warren Buffett (Step-by-Step)
- Cara Menghitung ROA ala Warren Buffett
- Studi Kasus: Membedah Emiten "Sultan" vs "Dhuafa"
- Jebakan Batman: ROE Tinggi tapi Perusahaan Sekarat
- Standar Emas: Berapa Angka Ajaib Warren Buffett?
- Mengukur Efisiensi Manajemen dari Dapur Perusahaan
- Checklist Analisis Sebelum Tekan Tombol Buy
- FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa Itu ROE & ROA? Penjelasan "Warung Bakso"
Sebelum kita masuk ke rumus njelimet, mari kita lupakan dulu istilah keuangan yang bikin pusing. Bayangkan kamu ingin berinvestasi di sebuah warung bakso milik tetanggamu, Pak Budi.
Pak Budi punya modal sendiri (uang tabungan) sebesar Rp10 juta. Ini kita sebut Ekuitas (Equity).
Selain modal sendiri, Pak Budi juga meminjam uang dari bank sebesar Rp5 juta untuk beli gerobak bagus. Jadi, total harta (gerobak, bahan, kompor) yang ada di warung Pak Budi adalah Rp15 juta. Ini kita sebut Aset (Asset).
Nah, setelah jualan setahun, Pak Budi berhasil mendapatkan keuntungan bersih (setelah potong gaji karyawan, listrik, dan bunga bank) sebesar Rp2 juta. Ini adalah Laba Bersih (Net Income).
Logika Sederhananya Begini:
- ROE (Return on Equity): Seberapa pintar Pak Budi memutar uang modalnya sendiri (Rp10 juta) untuk menghasilkan laba Rp2 juta.
- ROA (Return on Assets): Seberapa pintar Pak Budi menggunakan seluruh harta warung (termasuk yang dari utang bank) yang totalnya Rp15 juta untuk menghasilkan laba Rp2 juta.
Cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett sebenarnya berakar dari logika sederhana ini: Seberapa efisien manajemen mengubah modal menjadi laba?
Kenapa Warren Buffett Tergila-gila pada ROE & ROA?
Bagi Buffett, saham itu bukan sekadar kertas lotre yang harganya naik turun setiap detik. Saham adalah kepemilikan bisnis.
Jika kamu membaca sejarah hidupnya, kamu akan paham bahwa pendekatan ini sangat fundamental. Untuk memahami pola pikir beliau lebih dalam, ada baiknya kamu membaca referensi tentang siapa Warren Buffett sebenarnya. Beliau bukan trader harian yang pusing melihat monitor, tapi seorang analis bisnis yang jenius.
Buffett menyukai perusahaan yang punya "Moat" atau parit pelindung ekonomi. Dan salah satu indikator terkuat adanya Moat adalah ROE yang tinggi dan konsisten selama bertahun-tahun. Kenapa?
Karena ROE tinggi tanpa utang berlebih menandakan perusahaan tersebut punya keunggulan kompetitif. Mereka tidak perlu bakar duit promosi gila-gilaan atau banting harga hanya untuk jualan. Produk mereka laku keras karena kualitas, bukan karena diskon.
Perbedaan ROE vs ROA: Mana yang Lebih Penting?
Seringkali investor pemula bingung, "Bang, mending lihat ROE atau ROA?". Jawabannya: Tergantung jenis industrinya.
ROE (Laba Bersih / Ekuitas) adalah favorit pemegang saham. Kenapa? Karena ini menunjukkan seberapa cepat uang kamu (sebagai investor/pemilik modal) berkembang biak.
Tapi hati-hati. ROE bisa dimanipulasi dengan utang (kita akan bahas ini nanti di bagian "Jebakan Batman").
ROA (Laba Bersih / Total Aset) adalah favorit untuk mengecek efisiensi perusahaan yang padat modal (capital intensive) seperti pabrik semen, konstruksi, atau tambang alat berat. Jika perusahaan punya aset triliunan (pabrik gede, tanah luas) tapi labanya seuprit, ROA-nya pasti kecil. Artinya? Asetnya nganggur atau tidak produktif.
Insight Penting: Warren Buffett cenderung lebih fokus pada ROE untuk perusahaan consumer goods dan jasa, tapi dia akan melirik ROA jika menganalisis bank atau perusahaan manufaktur berat.
Cara Menghitung ROE ala Warren Buffett (Step-by-Step)
Oke, siapkan kalkulator atau buka aplikasi sekuritas kamu. Kita masuk ke dapur pacu analisisnya. Cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett tidak menggunakan angka prediksi analis, tapi menggunakan data historis yang nyata.
Rumus Dasar ROE:
Langkah-langkah Praktis:
- Buka Laporan Keuangan (Quarterly atau Annual).
- Cari bagian Laporan Laba Rugi (Income Statement), ambil angka "Laba Bersih Tahun Berjalan" atau Net Income.
- Cari bagian Neraca (Balance Sheet), lihat bagian bawah, ambil angka "Total Ekuitas" atau Total Equity.
- Bagikan Laba Bersih dengan Ekuitas.
Contoh Nyata:
Misalkan PT Bank Cuan Tbk punya Laba Bersih Rp50 Triliun. Ekuitas mereka Rp250 Triliun.
ROE = (50 / 250) x 100% = 20%.
Angka 20% ini artinya, setiap Rp100 perak modal yang ditanamkan pemegang saham, perusahaan memberikan imbal hasil Rp20 perak setahun. Ini jauh lebih tinggi daripada bunga deposito, bukan?
Cara Menghitung ROA ala Warren Buffett
Sekarang kita geser ke ROA. Ini penting untuk melihat apakah manajemen "malas" atau rajin mengelola asetnya.
Rumus Dasar ROA:
Langkah-langkah Praktis:
- Ambil angka "Laba Bersih" yang sama tadi.
- Di bagian Neraca, cari angka paling atas atau paling bawah (tergantung format), yaitu "Total Aset". Ingat, Aset = Ekuitas + Utang (Liabilitas).
- Bagikan Laba Bersih dengan Total Aset.
Jika PT Bank Cuan Tbk tadi punya total aset Rp1.000 Triliun (karena bank punya banyak aset berupa pinjaman yang disalurkan), maka:
ROA = (50 / 1.000) x 100% = 5%.
Kecil? Untuk bank, ROA di atas 1,5% - 2% itu sudah sangat bagus. Inilah kenapa konteks industri itu sangat penting dalam cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett.
Studi Kasus: Membedah Emiten "Sultan" vs "Dhuafa"
Mari kita mainkan skenario nyata. Kita bandingkan dua perusahaan fiktif tapi realistis: PT Semen Beton (SMBT) dan PT Sabun Wangi (SBW).
1. PT Semen Beton (SMBT)
- Butuh pabrik raksasa, truk molen ribuan, dan tanah tambang kapur.
- Total Aset: Rp100 Triliun.
- Ekuitas: Rp60 Triliun.
- Laba Bersih: Rp5 Triliun.
- ROE = 8,3% | ROA = 5%
2. PT Sabun Wangi (SBW)
- Cuma butuh mesin mixing, branding kuat, dan distribusi.
- Total Aset: Rp20 Triliun.
- Ekuitas: Rp15 Triliun.
- Laba Bersih: Rp5 Triliun.
- ROE = 33,3% | ROA = 25%
Jika kamu adalah Buffett, mana yang kamu pilih? Jelas PT Sabun Wangi. Dengan modal yang jauh lebih kecil (efisien), mereka menghasilkan laba yang SAMA dengan perusahaan semen raksasa. Inilah inti dari High Quality Business.
Jebakan Batman: ROE Tinggi tapi Perusahaan Sekarat
Di bagian ini, ada satu hal yang sering terlewat oleh investor pemula dan bikin mereka boncos. Banyak orang melihat screener saham: "Wah, ROE 40%! Sikat!" Padahal itu jebakan.
Kenapa bisa jebakan? Ingat rumus akuntansi dasar:
Aset = Utang + Ekuitas.
Jika perusahaan memperkecil Ekuitas dengan cara memperbesar Utang, pembagi dalam rumus ROE menjadi kecil. Hasilnya? Persentase ROE meledak naik secara matematis.
Contoh Mengerikan:
- Perusahaan A punya Ekuitas Rp100, Utang Rp0, Laba Rp20. ROE = 20%. (Sehat).
- Perusahaan B punya Ekuitas Rp10, Utang Rp90, Laba Rp20. ROE = 200%. (Kelihatannya Wow).
Tapi Perusahaan B berisiko bangkrut besok pagi jika bunga utang naik sedikit saja. Warren Buffett sangat anti dengan perusahaan tipe B ini. Baginya, ROE tinggi yang dihasilkan dari financial engineering (rekayasa utang) adalah palsu.
Jadi, saat menerapkan cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett, kamu WAJIB cek rasio utangnya (Debt to Equity Ratio). Jika ROE tinggi tapi DER-nya di atas 1 atau 2 kali, waspadalah.
Standar Emas: Berapa Angka Ajaib Warren Buffett?
Lalu, berapa angka minimal yang dicari Buffett?
Meskipun tidak ada aturan saklek, Buffett secara historis menyukai perusahaan dengan:
- ROE > 15% (Konsisten selama 5-10 tahun).
- ROA > 5-10% (Tergantung sektor, untuk non-bank).
- Net Profit Margin (NPM) yang tebal.
Kunci katanya adalah KONSISTEN. Jangan terkecoh dengan perusahaan yang tahun ini ROE-nya 20% karena jual tanah atau aset (laba satu kali), tapi tahun depannya balik rugi. Buffett akan melihat rekam jejak minimal 5 tahun ke belakang.
Mengukur Efisiensi Manajemen dari Dapur Perusahaan
Selain angka, ROE dan ROA adalah cerminan karakter manajemen.
Manajemen yang buruk seringkali menahan laba (tidak membagi dividen) tapi tidak tahu mau dipakai buat apa uangnya. Akhirnya mereka melakukan akuisisi sembarangan atau membangun proyek mercusuar yang gagal. Ini akan membuat Aset dan Ekuitas bengkak, tapi Laba tidak naik. Ujung-ujungnya ROE dan ROA turun pelan-pelan.
Sebaliknya, manajemen yang disukai Buffett (seperti manajemen Coca-Cola atau Apple) tahu persis kapan harus menahan laba untuk ekspansi produktif, dan kapan harus mengembalikan uang ke pemegang saham lewat dividen atau buyback saham jika mereka merasa tidak ada proyek yang menguntungkan.
Inilah yang disebut Capital Allocation Skill.
Checklist Analisis Sebelum Tekan Tombol Buy
Supaya tidak bingung, simpan checklist sederhana ini. Sebelum beli saham, tanyakan 5 hal ini:
- Apakah ROE rata-rata di atas 15% selama 5 tahun terakhir?
- Apakah kenaikan ROE didorong oleh laba operasional, bukan jual aset?
- Apakah utang perusahaan (DER) terjaga di level aman?
- Apakah ROA stabil atau trennya naik? (Menandakan aset makin produktif).
- Apakah saya mengerti model bisnisnya? (Buffett Circle of Competence).
Insight Advance: Hubungan ROE dan PBV
Banyak orang berhenti di sini, padahal justru di sinilah uang besarnya. Hubungan antara ROE dan PBV (Price to Book Value).
Saham dengan ROE 20% layak dihargai lebih mahal (PBV > 1) daripada saham dengan ROE 5%. Jika kamu menemukan saham dengan ROE 20% tapi PBV-nya masih 0,5x atau 0,8x, dan laporan keuangannya bersih (tidak ada masalah hukum/utang macet), SELAMAT!
Kemungkinan besar kamu menemukan "Salah Harga" atau Undervalued Stock. Inilah momen di mana Warren Buffett akan masuk dengan porsi besar. Kamu membeli uang Rp1.000 dengan harga Rp500, dan uang itu tumbuh 20% per tahun.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah ROE negatif selalu berarti buruk?
Ya, secara umum itu tanda bahaya karena perusahaan merugi. Namun, untuk perusahaan startup fase bakar uang atau perusahaan turnaround, kadang ROE negatif bisa dimaklumi ASALKAN arus kas operasionalnya mulai positif.
Lebih penting mana, Laba Bersih naik atau ROE naik?
ROE naik lebih penting. Laba bersih bisa naik hanya karena penambahan modal besar-besaran (Rights Issue), tapi jika ROE turun, berarti efisiensi penggunaan modal justru memburuk.
Dimana bisa melihat data ROE dan ROA 5 tahun ke belakang?
Kamu bisa menggunakan aplikasi sekuritas, situs seperti RTI Business, Stockbit, atau membaca langsung Annual Report perusahaan di bagian "Ikhtisar Keuangan Penting".
Mempelajari cara menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett adalah langkah awal transformasi dari seorang "penjudi saham" menjadi investor bisnis sejati. Ingat, pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar.
Dengan memegang saham perusahaan yang punya ROE tinggi, manajemen jujur, dan dibeli di harga wajar, waktu adalah sahabat terbaikmu. Biarkan bunga berbunga (compounding interest) bekerja dalam hening, sementara kamu menikmati hidup.
Jadi, sudah siap membedah laporan keuangan emiten incaranmu hari ini?

Posting Komentar untuk "Cara Menghitung ROE dan ROA ala Warren Buffett"