Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Value Investing vs Growth Investing ala Buffett: Mana yang Bikin Kaya Sambil Tidur Nyenyak?

Perbandingan strategi Value Investing vs Growth Investing ala Warren Buffett dengan ilustrasi koran bisnis dan grafik saham di meja kerja investor.
Foto estetik meja investor profesional dengan buku The Intelligent Investor, koran headline Warren Buffett, dan tablet menampilkan grafik tren bullish saham jangka panjang.

Pernahkah kamu merasa jantung berdegup kencang saat melihat aplikasi sekuritas? Merah, merah, dan merah lagi. Padahal, niat awal investasi saham itu sederhana: ingin uang bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Kamu ingin tidur nyenyak, bangun pagi, dan melihat aset bertumbuh.

Di dunia pasar modal yang kadang kejam ini, ada dua kubu besar yang sering diperdebatkan: Value Investing dan Growth Investing. Kubu pertama bilang, "belilah barang bagus saat diskon." Kubu kedua berteriak, "belilah barang yang akan jadi raksasa di masa depan, berapapun harganya sekarang!"

Bingung memilih? Wajar. Tapi tahukah kamu, investor tersukses di dunia tidak berdiri kaku di satu kubu saja? Sebelum kita bedah strateginya, ada baiknya kamu paham dulu fondasi pemikiran sang legenda. Coba luangkan waktu sebentar membaca Siapa Warren Buffett sebenarnya, agar kamu paham konteks mengapa strategi beliau bisa berubah seiring waktu.

Artikel ini bukan sekadar teori membosankan dari buku teks kuliah. Ini adalah panduan jalanan (street smart) tentang bagaimana Value Investing vs Growth Investing ala Buffett bisa diterapkan oleh pekerja kantoran biasa atau pemula sekalipun untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Apa Sebenarnya Perbedaan Mendasar Keduanya?

Sederhananya begini. Bayangkan kamu sedang belanja di pasar.

Value Investor adalah tipe pembeli yang mencari barang bermerek yang sedang 'salah harga'. Misalnya, ada sepatu Nike asli yang dijual seharga sepatu lokal karena kotaknya penyok sedikit. Fokus utamanya adalah harga saat ini harus jauh lebih murah dari nilai aslinya (Intrinsic Value). Semboyannya: Margin of Safety.

Sebaliknya, Growth Investor tidak peduli kalau harga sepatu itu sedikit mahal hari ini. Mereka membeli sepatu lari edisi terbatas yang diyakini harganya akan naik 10x lipat tahun depan karena sedang tren gila-gilaan. Fokus utamanya adalah potensi pertumbuhan laba (Earnings Growth) di masa depan.

Namun, dalam praktiknya di bursa saham Indonesia (IDX) maupun Amerika, batas ini seringkali kabur. Banyak saham growth yang tiba-tiba jadi murah (value), dan banyak saham value yang ternyata tidak tumbuh-tumbuh (value trap).

Kenapa Warren Buffett Mengubah Strateginya?

Ini poin yang sering dilewatkan banyak "guru" saham dadakan. Buffett muda berbeda 180 derajat dengan Buffett tua.

Awalnya, di bawah bimbingan Benjamin Graham, Buffett adalah penganut Cigar Butt Investing. Dia mencari perusahaan "sekarat" yang harganya sangat murah, ibarat memungut puntung cerutu di jalanan yang masih menyisakan satu hisapan gratis. Murah, tapi tidak berkualitas.

Tapi, strategi ini punya batas. Kamu tidak bisa mengelola dana miliaran dolar hanya dengan memungut puntung cerutu. Di sinilah peran Charlie Munger masuk. Partner Buffett ini mengubah mindset Buffett: "Lebih baik membeli perusahaan luar biasa dengan harga wajar (Fair Price), daripada membeli perusahaan biasa-biasa saja dengan harga luar biasa murah."

Inilah inti dari Value Investing vs Growth Investing ala Buffett modern. Dia tidak lagi memisahkan keduanya secara kaku. Dia mencari Growth, tapi tidak mau membayar terlalu mahal.

Value Investing: Seni Membeli Ferrari Seharga Avanza

Bagaimana Cara Kerjanya?

Value investing membutuhkan kesabaran tingkat dewa. Kamu bertindak sebagai detektif yang mencari kesalahan pasar. Pasar saham itu manik-depresif; kadang terlalu optimis, kadang terlalu pesimis.

Saat pasar panik (crash), harga saham perusahaan bagus seringkali ikut terbanting. Itulah momen Value Investor masuk. Kamu membeli Rp1.000 dengan harga Rp500.

Ciri-Ciri Saham Value:

  • PER (Price to Earning Ratio) Rendah: Biasanya di bawah rata-rata industri atau historisnya (misal di bawah 10x atau 15x).
  • PBV (Price to Book Value) Rendah: Aset perusahaan dihargai murah, kadang di bawah nilai likuidasinya.
  • Dividen Yield Tinggi: Karena harga sahamnya turun, persentase dividen terhadap harga jadi besar. Ini favorit pemburu passive income.
  • Bisnis Membosankan: Seringkali bergerak di sektor 'tua' seperti batubara, perbankan, atau manufaktur, bukan teknologi yang seksi.

Tapi hati-hati, ada yang namanya Value Trap. Saham murah bisa jadi memang murahan karena perusahaannya mau bangkrut atau manajemennya korup. Jangan tergiur angka rasio semata.

Growth Investing: Bertaruh pada Masa Depan

Jika Value Investor melihat ke belakang (laporan keuangan historis), Growth Investor melihat ke depan (prospek). Kamu membeli mimpi dan eksekusi manajemen.

Masalah utamanya adalah ketidakpastian. Memprediksi masa depan itu sulit. Namun, jika kamu benar, keuntungannya bukan cuma 20-30%, tapi bisa multibagger (berkali-kali lipat).

Kapan Harus Memilih Growth Strategy?

Strategi ini cocok buat kamu yang punya profil risiko agresif dan time frame panjang (di atas 5 tahun). Kamu tidak keberatan melihat portofolio bergejolak (volatil), asalkan tren jangka panjangnya naik.

Kalau kamu ingin mendalami bagaimana Buffett memilih perusahaan yang punya potensi tumbuh tapi tetap aman, coba cek lagi artikel tentang Siapa Warren Buffett untuk melihat rekam jejak keputusan-keputusan krusialnya di masa lalu.

Apa Saja Kesalahan Fatal Investor Pemula?

Jujur saja, banyak orang kehilangan uang di tahun pertama bukan karena bodoh, tapi karena emosional dan tidak punya sistem.

1. FOMO (Fear of Missing Out)

Melihat teman pamer cuan di Instagram, kamu langsung HAKA (Hajar Kanan) saham yang sudah naik 100%. Padahal, itu adalah pucuk. Growth Investing bukan berarti beli di pucuk.

2. Menangkap Pisau Jatuh

Mentang-mentang harga turun 50%, kamu anggap itu Value Investing. Padahal fundamentalnya hancur. Ingat, saham yang turun 90% adalah saham yang sudah turun 80% lalu turun lagi 50%.

3. Tidak Mengerti Apa yang Dibeli

Buffett punya aturan emas: Circle of Competence. Jangan beli saham perusahaan bioteknologi kalau kamu cuma mengerti bisnis jualan kerupuk. Belilah bisnis yang kamu paham cara kerjanya.

Bagaimana Cara Menggabungkan Keduanya (Hybrid)?

Ini adalah "daging" dari artikel ini. Strategi yang disebut GARP (Growth at a Reasonable Price).

Carilah perusahaan yang:

  1. Punya Moat (Parit Pengaman): Keunggulan kompetitif yang sulit ditiru pesaing. Bisa berupa brand kuat (seperti Apple/Unilever), biaya produksi rendah, atau efek jaringan.
  2. Profitabilitas Tinggi: Lihat ROE (Return on Equity). Perusahaan bagus biasanya punya ROE di atas 15-20% secara konsisten.
  3. Manajemen Jujur: Cek rekam jejak direksinya. Apakah mereka sering memberi janji palsu?
  4. Harga Masuk Akal: Tidak perlu semurah "sampah", tapi jangan beli saat valuasi sudah di luar nalar (misal PER 100x tanpa alasan jelas).

Indikator Teknis Apa yang Wajib Dipantau?

Jangan alergi angka. Kamu tidak perlu jadi ahli matematika, cukup pahami rasio-rasio sederhana ini untuk menyaring saham:

  • PEG Ratio (Price/Earnings to Growth): Ini indikator sakti Peter Lynch yang juga relevan dengan gaya Buffett. Rumusnya: PER dibagi Pertumbuhan Laba (Growth Rate).
    Aturan main: Jika PEG < 1, saham itu undervalued (murah) dibanding pertumbuhannya. Jika PEG > 2, mungkin sudah kemahalan.
  • Free Cash Flow (Arus Kas Bebas): Laba di laporan rugi laba bisa direkayasa akuntansi, tapi uang kas di bank tidak bisa bohong. Cari perusahaan dengan Free Cash Flow positif dan bertumbuh.
  • Debt to Equity Ratio (DER): Buffett tidak suka perusahaan dengan utang menggunung. Utang adalah pembunuh nomor satu saat krisis ekonomi datang. Pastikan utang terkendali (biasanya DER < 1).

Studi Kasus Realistis: Apple & Coca-Cola

Mari kita bedah portofolio Berkshire Hathaway (perusahaan Buffett) untuk melihat bukti nyata.

Coca-Cola (KO) dibeli Buffett tahun 1988 setelah pasar crash. Saat itu Coca-Cola dianggap saham growth yang sudah mapan. Buffett melihat brand yang tak tertandingi (Moat) dan kemampuan menaikkan harga produk tanpa ditinggal konsumen. Ini adalah Value Investing pada perusahaan Growth.

Apple (AAPL) dibeli Buffett mulai tahun 2016. Banyak yang kaget karena Buffett anti saham teknologi. Tapi Buffett melihat Apple bukan lagi sekadar perusahaan tech, tapi consumer goods. Orang kecanduan iPhone. Ekosistemnya mengunci pengguna. Arus kasnya gila-gilaan. Buffett membeli Apple saat valuasinya masih wajar (PER sekitar 10-15x saat itu). Sekarang? Apple adalah mesin pencetak uang terbesar di portofolionya.

Kenapa Psikologi Lebih Penting dari Matematika?

Kamu bisa punya data lengkap, rumus canggih, dan laptop spek dewa. Tapi kalau mentalmu mental kerupuk, Value Investing vs Growth Investing tidak ada gunanya.

Investasi itu 10% pengetahuan, 90% temperamen. Bisakah kamu diam saja saat sahammu turun 20% sementara fundamentalnya masih bagus? Bisakah kamu menahan diri tidak pamer saat cuan lebar? Keserakahan (Greed) dan Ketakutan (Fear) adalah musuh abadi.

Tips agar tenang: Gunakan uang dingin. Uang yang tidak akan kamu pakai dalam 3-5 tahun ke depan. Dengan begitu, kamu tidak akan dipaksa jual saham bagus di harga murah hanya karena butuh bayar cicilan.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apakah Value Investing sudah mati di era teknologi?
A: Tidak. Prinsipnya tetap sama: membeli Rp1.000 dengan harga Rp500. Hanya saja, definisi "nilai" (value) sekarang mencakup aset tak berwujud seperti data, paten, dan brand, bukan cuma pabrik dan tanah.

Q: Berapa modal minimal untuk mulai strategi ala Buffett?
A: Tidak ada minimal. Di Indonesia, dengan Rp100.000 pun kamu sudah bisa beli 1 lot saham perusahaan bagus. Yang penting konsistensi (Dollar Cost Averaging).

Q: Lebih baik dividen atau capital gain?
A: Tergantung kebutuhan. Kalau kamu butuh cashflow bulanan/tahunan, cari Dividend Stock. Kalau kamu masih muda dan ingin membesarkan aset, cari Growth Stock (Capital Gain). Buffett sendiri lebih suka Capital Gain karena penundaan pajak, tapi dia suka menerima dividen dari perusahaan yang dia beli.

Q: Kapan waktu terbaik menjual saham?
A: Menurut Buffett, "Waktu tunggu favorit kami adalah selamanya." Tapi secara realistis, juallah jika: (1) Kamu butuh uangnya, (2) Analisis awalmu ternyata salah, atau (3) Ada peluang lain yang jauh lebih menarik.


Pada akhirnya, perdebatan Value Investing vs Growth Investing ala Buffett mengajarkan kita satu hal penting: fleksibilitas. Jangan fanatik pada satu metode. Jadilah investor yang rasional, skeptis namun optimis pada kemajuan peradaban manusia.

Mulailah dari yang kecil, pelajari bisnisnya, dan biarkan waktu (compounding interest) melakukan keajaibannya untukmu. Selamat berinvestasi!

Posting Komentar untuk "Value Investing vs Growth Investing ala Buffett: Mana yang Bikin Kaya Sambil Tidur Nyenyak?"